Adi Subhan
Friday, April 21, 2017
Yang Datang Selalu Lebih Baik dari Yang Pergi
![]() |
| Durdle Door Beach, England 2017 |
Dalam fitrahnya semesta ini adalah dinamis, selalu bergerak dan
berubah mulai dari partikel atom hingga peredaran tata surya terhadap galaksi
dan juga segala kemungkinan pergerakan diatasnya. Semua bergerak menurut
ketetapannya untuk membentuk keseimbangan yang harmonis dalam semesta.
Setiap pergerakan dan kejadian itu sendiri adalah bentuk dari
kehendak (Qudrah dan Iradah) Illahi yang mewujud secara alamiah yang kita kenal
dengan hukum alam/Sunnatullah, sekalipun pergerakan ataupun dinamisasi itu
adalah hasil rekayasa akal pikiran manusia namun ia tetap tunduk pada kaidah
kaidah hukum alam dan Sunnatullah itu sendiri.
Bicara tentang dinamisasi adalah bicara tentang pergerakan,
perpindahan, apa yang perlu dimasukkan dan apa pula yang perlu dilepaskan yang
kesemuanya adalah untuk selalu menjaga titik keseimbangannya.
Suatu kejadian, pergerakan dan perpindahan adalah hal yang melekat pada diri
manusia yang kita mempersepsikannya menjadi dua kelompok, yaitu positif dan
negatif. Kita sering mempersepsikan tertusuk duri dijalan adalah musibah/luka
(negatif) dan mendapatkan uang dijalan adalah rejeki (positif), kehilangan
materi/ jabatan adalah kemalangan (negatif) dan naik pangkat/gaji adalah rahmat
(positif) dan banyal lagi contoh contoh lainnya.
Terlepas dari apapun persepsi yang kita lekatkan pada setiap
kejadian, semuanya itu adalah hal terbaik, respon terbaik yang diberikan
semesta dalam kehidupan kita. menjalani kehidupan dalam penjara bukanlah kiamat
bahkan merupakan rangkaian jalan terbaik dalam kehidupan Mandela untuk menjadi tokoh perdamaian dunia, beberapa kali kekalahan dalam pemilihan Presiden Amerika adalah bagian dari rangkaian jalan terbaik bagi Abraham Lincoln untuk menjadi salah satu Presiden terbesar sepanjang sejarah Amerika.
Kalaupun sekarang masing masing kita berada dalam situasi dan kondisi yang berbeda, apapun itu adalah yang terbaik bagi kita semua .
Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan namun
apapun itu sudah pasti untuk kebaikan. Kerja tubuh kita misalnya bisa menjadi
gambaran dari kerja semesta, untuk tetap hidup dan bergerak harus ada kebaikan/
energi hidup (O2) yang masuk dikarenakan karena ada racun ( CO2) yang harus
dikeluarkan. Setiap yang datang lebih baik dari yang pergi.
Hukum ini tidak hanya berlaku secara personal namun juga berlaku
secara komunal/ kolektif baik dalam ruang lingkup yang kecil seperti kelurahan,
kota hingga ke ruang lingkup lebih besar seperti negara. Bukan hanya pada hal
hal yang positif yang datang dalam kehidupan kita, pada hal hal negatif seperti
banjir yang melanda pemukiman adalah respon terbaik dari alam, memberikan pesan
pada kita bahwa ada ketidakseimbangan yang terjadi dan juga untuk meningkatkan
kesadaran kita akan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem, terpilihnya
Trump dan chaos yang terjadi di Amerika juga atas ijin dan kehendak Tuhan,
respon terbaik dari semesta untuk menyadarkan kekuatan dan kelemahan dari
sistem demokrasi dan liberalisme yang mereka anut, Lemahnya pemimpin dan
kepemimpinan nasional juga atas ijin dan kehendak Tuhan sebagai bagian dari
proses peningkatan dari betapa lemahnya kesadaran kolektif berpolitik kita.
Apapun yang terjadi itulah yang terbaik bagi kita.
Apapun persepsi yang kita lekatkan, baik dan buruk itu harus terjadi
dan dialami untuk evolusi pemikiran dan jiwa, baik secara personal maupun
komunal untuk mencapai titik ideal keseimbangannya masing masing. Titik
keseimbangan yang harmonis, selaras dan serasi itu sendiri merupakan tujuan
dari kehidupan sosial dan bahkan tujuan kehidupan spiritual seperti yang
tergambarkan dalam konsep surga dan neraka, manusia harus mati berulang ulang
kali dibakar di neraka untuk mengikis dosa dan mencapai titik ideal fitrah
kemanusiaannya yang hanief menuju surga.
Selalu berpikir positif atas segala kejadian karena segala
sesuatu adalah atas ijin dan kehendak Nya. Hindari kebencian atas nama apapun
karena setiap elemen, mahluk dan kejadian adalah guru kehidupan untuk evolusi
keruhanian kita.
Wallahu"alam.
Saturday, December 10, 2016
Hitam Putih
![]() |
| Snuff Milss, Bristol 2016 |
Pada kenyataannya sekarang sudah sangat banyak produk hukum sebagai alat pengahakiman dan pengambilan keputusan terhadap segala persoalan, proses hukum yang akan menentukan kebenaran dan kesalahan dari setiap kasus yang terjadi dalam kehidupan manusia. Produk hukum ini pula telah disiapkan untuk menyentuh setiap sisi dan dan aspek kehidupan manusia.
Namun kali ini kita tidak membahas tentang hukum hukum positif yang mengatur tentang kehidupan manusia, yang sudah pastinya sangat tergantung pada konsep kewilayahan, bersifat tentatif dan terus berkembang seiring dengan perubahan jaman. Kali ini kita akan sedikit membahas mengenai benar dan salah dalam pandangan agama, apakah benar dan salah itu bersifat statis atau dinamis atau bahkan kedua keduanya. Apakah kehidupan moral beragama didasarkan atas penilaian hitam dan putih atau sebaliknya, kehidupan moral beragama itu sangat berwarna.
Dalam kehidupan beragama, apapun agamanya akan sangat kental dengan kajian benar dan salah, dalam masing masing kitab agama akan banyak sekali kita jumpai tentang larangan larangan dan suruhan suruhan. Suruhan dan larangan dalam beragama ini akan berimplikasi pada moral yang benar atau moral yang salah. Ketika kita melakukan semua suruhan maka kita dimasukkan dalam golongan moral yang benar namun ketika melakukan semua larangan maka kita dimasukkan dalam golongan moral yang salah.
Dimanakah benar dan salah itu berada? sebagian orang akan berkata benar dan salah itu ada dalam keobjektifan berpikir, sebagian yang lainnya akan berkata benar dan salah itu ada di dalam hati dan rasa dan sebagiannya lagi akan berkata benar dan salah itu ada di kitab suci. Dalam tulisan ini akan melakukan pendekatan terhadap sejarah kenabian yang disajikan dalam agama (khususnya Islam) dalam mengklasifikasi benar dan salah.
Dalam dunia Islam semua muslim meyakini bahwa kenabian membawa misi yang sama, yaitu Islam. Ketika ditanya, seorang muslim akan menjawab bahwa semua nabi adalah Islam, mereka membawa pesan pesan Islam kepada umatnya, dan oleh karena itu kenapa setiap muslim meyakini para nabi merupakan orang tercerahkan/suci dari umatnya pada masanya masing masing. Sekalipun itu Musa as yang merupakan nabi Yahudi, walau banyak muslim tidak menyukai Yahudi namun semua muslim mengakui kenabian Musa as. Begitu juga terhadap Yesus (Isa as), walau banyak muslim tidak setuju dan dengan sebagian nilai nilai Nashrani, namun semua muslim beranggapan bahwa nabi Isa adalah manusia suci dan seorang nabi.
Lantas bagaimana para nabi sebelum Muhammad saw bisa dikatakan Islam? bukankah pilar Islam itu ada 5 hal, sedangkan mereka sendiri tidak menerima 5 pilar tersebut pada jamannya masing masing. Didalam Quran tidak disebutkan masing masing nabi itu mengucapkan kalimat Syahadah, pada jaman mereka belum mengenal Shalat seperti yang dilakukan Rasulullah saw, kesemua mereka bukan bangsa Arab dan tidak mengenal bulan Ramadhan untuk puasa, dan juga belum mengenal konsep Zakat. Dari kejadian ini akan timbul pertanyaan, Islam itu sendiri apa? kalau memang menjadi seorang Muslim harus tunduk pada ke 5 pilar kenapa orang orang sebelum Muhammad saw juga bisa dikatakan Islam, bahkan dilabeli dengan jabatan Nabi padahal mereka belum mengenal 5 konsep/pilar bergama dalam Islam. Hal tentang apakah Islam ini sendiri akan disajikan dalam tulisan berikutnya (Hanya Ada Satu Jalan).
Sampai saat ini kita menyetujui mulai dari Adam as hingga Muhammad saw adalah pembawa ajaran Islam, dari keyakinan ini kita menyetujui bahwa warna Islam itu sendiri berubah ubah dari jaman ke jaman sesuai dengan budaya dan tingkat peradaban dari masing masing nabi tersebut.
Sesuatu yang pernah dilakukan secara benar pada masa Adam as bisa saja dianggap salah jika dilakukan pada masa Muhammad saw, sesuatu yang secara benar dilakukan oleh Sulaiman as dan nabi nabi lainnya pada jamannya akan jadi salah jika dilakukan dijaman Muhammad saw namun dalam Quran nabi nabi terdahulu sebelum Muhammad saw itu tidak pernah dicap kafir tehadap nilai nilai Islam.
Untuk lebih jelasnya kita akan langsung melihat pada beberapa kejadian dari nabi nabi terdahulu sebelum Muhammad saw, tindakan tindakan yang dilakukan oleh nabi nabi terdahulu baik itu perintah Tuhan maupun tindakan pribadi yang kontradiktif jika dikaitkan dengan Syariah yang diajarkan Muhammad saw.
Pertama, Adam as melakukan pernikahan sedarah terhadap anak anaknya. Pernikahan sedarah ini tentunya adalah sangat terlarang dalam Syariah Islam yang diajarkan Muhammad saw namun tidak halnya pada jaman Adam as, itu adalah pilihan terbaik yang harus dilakukan. Atas petunjuk Tuhan, Adam meminta kedua anak laki lakinya (Qabil dan Habil) memberi persembahan kepada Tuhan. Tidak ada penjelasan detail tentang bagaimana prosesi pemberian penyembahan kepada Tuhan ini, apakah ditempatkan diatas batu, diatas bukit atau lainnya karena tidak mungkin diserahkan langsung kepada Tuhan karena dalam Islam konsep Tuhan jelas tidak bisa dilihat dan tidak berbentuk (bukan objek) seperti manusia. Kalau permintaan Adam as kepada anaknya ini kita lakukan sekarang, setelah kita menerima Syariah dari Muhammad saw bisa bisa kita dikatakan syirik, memberikan sesajian tanpa tau kemana hilangnya sesajian kita itu. Namun tidak pada jaman Adam as, begitulah cara mereka, peradaban mereka menterjemahkan perintah perintah Tuhan dalam kehidupan mereka. Apakah Adam as pendosa dan berlaku salah? kita tidak bisa mengatakan begitu karena apa yang dilakukan adalah perintah Tuhan.
Kedua, Yunus as meninggalkan penduduknya dan menaiki kapal untuk pergi ke negeri yang lain. Ketika kapal yang dinaiki Yunus as tidak bergerak dilautan, pihak kapal melakukan undian kepada semua penumpang untuk dilempar ke laut sebagai sesembahan agar terlepas dari masalah yang mereka hadapi. Melakukan undian dalam hidup dan memberikan sesembahan agar terlepas dari masalah adalah sangat terlarang dalam Syariah yang diajarkan Muhammad saw, namun hal itulah yang telah dilakukan Yunus as pad saat itu. Mengundi nasib ini sama dengan judi dalam Islam, dan memberikan sesembahan kelaut ini mengingatkan kita akan tradisi Rabu abeh/Tolak bala dalam sebagian masyarakat Aceh, yang biasanya melakukan sesembahan berupa badan kerbau yang sudah mati kelaut, hal ini jelas jelas dianggap Syirik dalam Syariah Islam. Lantas apakah Yunus as seorang yang berlaku salah dan pendosa karena mengikuti undian hidup dan merelakan tubuhnya jadi sesembahan bagi laut? saya yakin tidak satupun berani menyalahkan Yunus as dengan kenabiannya walaupun apa yang telah dilakukannya jelas jelas bertentangan dengan syariah yang diajarkan Muhammad saw. Begitulah peradaban masa Yunus as meyakini dalam melepaskan masalah dalam kehidupan mereka.
Ketiga, Daud as yang beristrikan 100 orang. Diriwayatkan bahwa Daud as adalah seorang raja besar yang memiliki istri 100 orang. Apa yang dilakukan oleh Daud as ini juga bertentangan dengan nilai nilai Syariah yang diyakini oleh banyak muslim (beristrikan 4 orang). Namun apakah beristrikan banyak lebih dari 4 ini adalah perbuatan salah dan dosa dari Daud as? walaupun itu bertentangan dengan semangat Syariah yang diajarkan Muhammad saw, semua muslim tetap meyakini Daud adalah seorang nabi/utusan Tuhan kemuka bumi.
Dan banyak lagi sejarah sejarah lainnya yang darinya kita bisa belajar tentang dinamisasi standart kebenaran dalam bergama. Dari 3 penggalan kisah nabi nabi diatas bisa dilihat adanya praktek praktek yang dilakukan para nabi sebelum Muhammad saw yang bertentangan dengan Syariah. Namun disisi lain semua muslim meyakini semua nabi adalah Islam, lantas yang manakah Islam yang sebenarnya? kebanyakan muslim akan menjawab, Islam adalah yang diajarkan Muhammad saw karena Muhammad saw adalah yang terakhir dan penyempurna dari ajaran yang mereka bawa. Pada kenyataanya juga Syariah yang dibawa Muhammad saw telah menjadi aturan aturan yang mengikat seluruh muslim didunia saat ini.
Bagi seorang muslim adalah suatu ketaatan ketika bisa mengikuti semua aturan aturan yang telah diberikan Illahi dalam Quran, Kata kata di kitab suci menjadi acuan benar dan salah dalam berpikir,berkata dan bertindak. Sejauh ini hampir bisa dikatakan tidak ada yang berani membantah perintah dan larangan larangan dalam kitab suci, kitab suci adalah harga mati dalam beragama.
Namun penggalan kisah kisah diatas memberikan gambaran kepada kita adanya standar ganda tentang benar dan salah, dulunya mereka lakukan itu dinggap benar namun setelah ada Muhammad saw, itu sudah menjadi salah. Apakah Tuhan itu plin plan? dulu dibolehkan dan sekarang tidak. Tentu tidak, Tuhan sudah pasti tidak plin plan, tidak berstandart ganda, namun kenapa juga kontradiksi itu bisa terjadi?
Sebuah hadist dari Ahmad, Abu Daud, An Nasa-i dan Ibnu Majah " Diangkat pena dari tiga orang, orang tidur hingga dia bangun, orang gila hingga sadar dan anak yang belum akil baligh". Dari hadist tersebut bisa dilihat ada 3 jenis manusia yang tidak dihitung amal baik dan buruknya. ketiga golongan ini tidak terikat hukum benar dan salah. lantas kenapa mereka bisa terbebaskan dari konsep salah benar? apa kesamaan mereka sehingga perbuatan mereka terbebaskan dari penilaian salah benar?. Jawaban yang paling mungkin adalah akal, pada orang tidur akal tidak bekerja, pada orang gila juga sama dan pada anak anak akalnya juga belum sempurna.
Pencatatan amal sangat tergantung pada akal manusia, nilai nilai benar dan salah bergantung pada kemampuan akal untuk bekerja. Ketika akal tidak bekerja maka gugurlah penialaian benar dan salah terhadapnya..
Berbicara tentang akal akan sangat erat kaitannya dengan pola pikir, kebiasaan, budaya dan peradaban manusia. Akal adalah sumber dari semua peradaban yang dihasilkan manusia. Akal adalah sarana utama manusia dalam menjawab semua tantangan kehidupan, mulai dari tantangan perbedaan gender, tantangan alam seperti kondisi geografis dan iklim, hingga tantangan kehidupan sosial. Karena inilah kita bisa melihat adanya keberagaman karakter budaya yang ada dalam kehidupan kita, sesuai dengan jaman dan kewilayahannya.
Dalam beragama, kondisi budaya dan peradaban suatu tempat sangat berpengaruh dalam upaya akal untuk menterjemahkan pesan pesan Tuhan, seperti yang kita lihat pada 3 contoh kasus nabi diatas. Perbedaan standart kebenaran dari beda jaman dan beda wilayah bukanlah bentuk ke plin planan Tuhan sebagai penguasa, namun begitulah intepretasi terbaik yang mereka berikan terhadap firman/ kalam Tuhan yang mereka terima pada masa dan tempat mereka.
Perbedaan kakarakter budaya juga telah melahirkan multitafsir dalam dunia Islam, dengan sumber yang sama yaitu Quran dan Hadist, telah melahirkan banyak sekali mahzab dan aliran pemikiran dalam Islam. Kalau kebenaran itu hitam dan putih tentunya akan seragam warna dalam Islam, kita akan mewarisi nilai nilai Islam yang sama dari jaman Adam as hingga jaman kita pada saat ini, namun kenyataan tidak begitu, Islam sangat beragam, mulai dari jaman Adam as hingga ke Muhammad saw punya warnanya masing masing, begitu juga pasca Muhammad saw, masing masing daerah memiliki mahzabnya sendiri sendiri yang paling sesuai dengan konteks pemikiran, budaya dan kondisi geografisnya.
Dari referensi sejarah yang ada dan kondisi Islam sekarang memberikan gambaran bahwa benar dan salah bukanlah tentang hitam dan putih, bukanlah suatu hal yang statis namun dinamis, selalu bergerak menyesuaikan dengan jaman dan tingkat peradabannya. Benar dan salah adalah sangat berwarna sesuai dengan kemampuan akal manusia untuk menterjemahkan pesan pesan Ilahi pada jamannya yang ada dalam kitab suci maupun dalam perkataan dan perbuatan Nabi. Setiap jaman dan semua kondisi kemanusiaan tersambungkan dengan Tuhan melaui akal dan hati manusia. Sekolot apapun jamannya, seprimitif apapun manusianya seperti suku Mante,Tuhan selalu berkata kata kepada hambaNya seperti firman Tuhan dalam Quran ( Yunus : 47 ) " Tiap tiap umat mempunyai rasul, maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka sedikitpun tidak aniaya".
Kapanpun dan dimanapun Tuhan selalu hadir dan berkata kata pada manusia. seimbangkan hati dan akal untuk selalu memberikan yang terbaik bagi kehidupan.
Wallahu'alam.
Friday, December 9, 2016
Syair si Buta
Aku tak pernah takut akan kegelapan
Karena pekatnya selalu mengingatkanku untuk berhati hati
Pekatnya selalu menyadarkan aku selalu butuh keselamatan
Untuk menjaga setiap langkah
Pulang selamat dan penuh damai kerumah peristirahatanku
Yang kutakutkan adalah terangnya sinar hari
Yang cahayanya kapan saja bisa melalaikan
Dan tak jarang menyilaukan mata
Berjalan dengan pongah dan membuatku terjatuh kelumpur
Serta membawa pulang tubuh penuh kotoran kerumahku
Wahai Rabb pemilik cahaya dan penguasa seluruh jiwa
Terangilah selalu hati ini
Agar aku bisa memaknai selalu arti hadir cahayaMU.
Karena pekatnya selalu mengingatkanku untuk berhati hati
Pekatnya selalu menyadarkan aku selalu butuh keselamatan
Untuk menjaga setiap langkah
Pulang selamat dan penuh damai kerumah peristirahatanku
Yang kutakutkan adalah terangnya sinar hari
Yang cahayanya kapan saja bisa melalaikan
Dan tak jarang menyilaukan mata
Berjalan dengan pongah dan membuatku terjatuh kelumpur
Serta membawa pulang tubuh penuh kotoran kerumahku
Wahai Rabb pemilik cahaya dan penguasa seluruh jiwa
Terangilah selalu hati ini
Agar aku bisa memaknai selalu arti hadir cahayaMU.
Tuesday, November 15, 2016
Agama Milik Siapa?
Hujan yang terus turun pagi itu membuat Mustapha dan Ali belum juga bisa beranjak pergi untuk memperbaiki pagar rumah pak Markus. Tidak terlalu jauh dari kampung mereka namun kondisi hujan deras juga tidak memungkinkan mereka untuk pergi dan melakukan pekerjaannya. Mereka cuma bisa terduduk di balai balai depan rumahnya menunggu hujan reda sambil menikmati kopi pagi dan gorengan sarapan pagi mereka.
" Ali, kamu tahu kenapa pagar rumah Pak Markus rusak?" tiba tiba Mustapha bertanya pada anaknya. " Katanya dirusak sama anak anak muda kampung situ, yah" jawab Ali. " Iya Ali, dua hari yang lalu waktu pak Markus nelpon Ayah, katanya juga begitu,ada beberapa anak muda datang kerumahnya dan tiba tiba merusak pagar rumahnya".
" Memangnya kenapa sih Yah ?" Ali balik bertanya pada Ayahnya. " Katanya mereka gak bisa terima kalau pak Markus buat acara kebaktian dirumahnya karena kebanyakan dari penduduk dikampung mereka adalah muslim dan mereka takut ajaran Kristen pak Markus mempengaruhi warganya", Mustapha memberi penjelasan pada anaknya.
Ali bertanya lagi " kenapa bisa takut Yah? bukannya muslim disitu banyak dan kristennya sedikit, harusnya pendeta Markus yang takut penduduk muslim yang mayoritas mempengaruhi umat kristen yang minoritas dikampung itu". Pertanyaan yang lugu namun jujur terhadap kondisi ril tanpa harus diembeli pemikiran tentang apa keyakinannya dan kualitas benar salahnya.
" Iya, kamu benar Ali. Kalau kita melihat dari jumlah harusnya yang sedikit takut sama yang jumlahnya lebih banyak. Tapi itulah sikap mental, banyak jumlahnya belum tentu membuat kita yakin akan kekuatan kita, malah sebaliknya, merasa inferior dan terancam dengan kelompok yang lebih kecil".
" Atau jangan jangan mereka gak yakin sama keislaman mereka sendiri sehingga harus takut sama keyakinan orang lain" celoteh Ali.
Mustapha tersenyum mendengar kata kata Ali " harusnya begitu, kalau sudah yakin dengan keislamannya kita tidak perlu takut lagi dengan ajakan ataupun hasutan dari luar, lagian pak Markus juga tidak mengajak ataupun menghasut penduduk lainnya, dia cuma mengajak penduduk yang seiman dengannya untuk berdoa dirumahnya" kata Mustapha kepada anaknya.
Hujan belum juga menampakkan tanda tanda untuk berhenti, bagi Ali sendiri duduk dan diskusi dengan Ayahnya adalah salah satu hal yang disenanginya. Dari Ayahnya dia selalu mendapat sudut pandang yang berbeda dengan kebanyakan orang orang, sudut pandang yang menyeluruh, objektif dan bebas dari kotak kotak pemikiran. Seperti biasa, kali ini Ali juga merasa ada sesuatu hal yang ingin disampaikan Ayahnya. Sudah menjadi kebiasaan untuk berdiskusi, seperti setelah makan malam mereka sering menghabiskan waktu di balai balai mereka, membahas apa saja mulai dari keluarga, agama dan kehidupan sosial.
Dugaan Ali benar, tiba tiba Mustapha bertanya, "Ali, menurut kamu agama itu milik siapa'?
" Agama apa dulu Yah?" Ali balik bertanya. " Agama apapun" kata Mustapha.
Pertanyaan yang gampang sekali pikir Ali, anak kecil sekalipun bisa menjawabnya. " Agama milik masing masing penganutnya Yah, Islam ya milik muslim, Kristen milik mereka yang beragama Kristen dan Yahudi juga milik yang beragama Yahudi" jawab Ali.
" Bagus kalau mereka merasa memiliki agamanya, jadi mereka akan berusaha hidup sesuai dengan tuntunan agamanya" kata Mustapha.
" Maksud Ayah, ada pemilik lain dari agama?' Ali jadi bingung dan bertanya pada ayahnya.
" Agama itu bukan milik siapa siapa Ali, dia milik dirinya sendiri, milik Tuhan" terang Mustapha.
" Iya pasti lah Yah, kan agama diturunkan dari Tuhan seperti Islam, Kristen dan Yahudi".
Semua muslim meyakini bahwa agama seperti Yahudi, Kristen dan Islam diturunkan oleh Tuhan yang sama namun permasalahnnya tidak hanya cukup meyakini bahwa agama agama itu turun dari Tuhan karena pada kenyataannya banyak konflik beragama terjadi, khususnya bagi agama agama yang turun dari Tuhan, seperti perang Islam dengan Kristen, Islam dengan Yahudi maupun Kristen dengan Yahudi. Ketika meyakini semua agama turun dari Tuhan disaat yang sama pula banyak penganut agama mengklaim agama yang diyakininyalah yang paling benar dan agama lain salah/sesat ataupun kadaluarsa.
Bagi kebanyakan Muslim mengatakan bahwa Yahudi dan Kristen sudah kadaluarsa, tidak sesuai lagi karena sudah diperbaharui oleh Islam dan nilai nilai dalam Islam ini abadi sampai akhir jaman dan tidak boleh diganggu atau direvisi oleh siapapun.
Bagi pemeluk Kristen dan yahudi menganggap Muhammad adalah Nabi palsu dan ajarannya bukan dari Tuhan. Ekslusifisme inilah yang menjadi benih benih permusuhan antar umat beragama, merasa agamanya yang terbaik dan menyalahkan semua agama yang lain.
" Lantas kalau semua agama berasal dari Tuhan kenapa sesama mereka sering berperang?" tanya Mustapha lagi kepada anaknya.
" Karena masing masing mereka tidak menjalankan agamanya secara benar" jawab Ali
" Jadi semua agama adalah benar?' tanya Mustapha lagi kepada Ali.
Bagi Ali pertanyaan salah benar selalu menjadi pertanyaan yang sangat susah untuk dijawabnya, memang dia masih terlalu muda, masih remaja namun keluasan dan kedewasaan berpikir Mustapha telah banyak tertular dalam dirinya melalui diskusi diskusi kecil yang sering mereka lakukan. Dia selalu menghindar dari perkataan perkataan yang menghakimi yang tanpa sadar hal itu juga dia turunkan dari gaya berpikir ayahnya.
" Kalau kebenaran mungkin relatif Ayah, sesuatu yang benar ditempat kita belum tentu benar ditempat lain, namun Ali yakin semua agama mengajarkan kasih dan sayang, pembebasan dan mengangkat martabat manusia" jawaban yang sangat bijak dari seorang Ali yang masih remaja.
" Jadi kalau mereka benar banar menjalankan agamanya secara benar pastinya tidak akan perang Yah" tambah Ali.
Mustapha tidak sedang mengajari dan mendikte cara berpikir anaknya, baginya diskusi dengan Ali adalah cara dia membagi cerita, pengalaman dan ilmu, tentunya dia sangat sadar anaknya memiliki sudat pandang sendiri dan bisa mendapatkan referensi yang lebih banyak lagi diluar dengan kemudahan akses akses informasi di media.
" Iya, Ayah setuju, semua agama yang pernah diturunkan adalah untuk kebaikan kemanusiaan, menuntun manusia untuk selalu berada pada jalan fitrahnya sebagai mahluk yang senang pada keindahan,kedamaian dan kesucian. Agama itu seperti cahaya, dia datang untuk menerangi gelap jalan kita, kita tahu kemana harus melangkah dan tahu apa yang harus kita hindari untuk kebaikan kita pribadi dan kebaikan bersama, bagi kemanusiaan". kata Mustapha kepada Ali.
Seperti cahaya, agama bukan milik siapa siapa, dia milik dirinya sendiri, milik Tuhan. Seperti sinar matahari dipagi hari, cahaya selalu menerangi kegelapan dan selalu terang seperti apa ada dirinya dari sejak awal penciptaan hingga kiamat nanti.
Semua muslim meyakini bahwa semua nabi yang disebutkan dalam Quran adalah Islam (berserah diri). Mulai dari Adam hingga Muhammad adalah pembawa cahaya Tuhan, agama Tuhan.
Cahaya itu selalu sama dan tidak pernah berubah, yang berbeda hanya dalam terapan kehidupan mereka masing masing, yang disesuaikan dengan tuntutan keadaan dan budaya mereka. Intepretasi cahaya terhadap masing masing jaman dan peradaban lah yang membuat tampilan cahaya jadi berbeda, namun tetap untuk menciptakan kebaikan bagi kemanusiaan. Sementara benar dan salahnya sendiri tunduk terhadap standart kebaikan pada jamannya masing masing.
Mustapha menambahkan lagi " permusuhan itu terjadi ketika ada cahaya yang masuk rumah, maka kita klaim cahaya adalah milik kita. Kita lupa bahwa rumah rumah yang lain juga masuk cahaya. Ketika masing masing mengatakan bahwa cahaya adalah miliknya, dan yang benar adalah miliknya inilah awal perselisihan, masing masing kita suka menghakimi orang lain dalam kegelapan hanya karena kita cuma tahu rumah kita yang ada cahaya. Bahkan untuk peradaban primitif yang belum terjamah peradaban modern sekalipun ada cahaya Tuhan disana yang diterjemahkan oleh mereka sesuai dengan peradaban mereka sendiri".
Permusuhan dan peperangan antar agama terjadi ketika ego dilkekatkan pada agama, ini agamaku, apa agamamu? agama dia dan apa pula agama mereka?. Jangan pernah lekatkan ego pada agama, justru agama menginginkan kita meruntuhkan ego, selalu mengevaluasi dan menghakimi diri terlebih dahulu sebelum berkata dan bertindak, untuk membuat kita lebih mawas diri dan selalu mengawasi moral sendiri agar selalu dalam rule fitrah kemanusiaan kita yang hanief.
" Tapi bukankah masing masing agama seperti Islam, Kristen dan Yahudi itu eksis dan berdiri sendiri Ayah?" Ali bertanya.
" Iya, betul Ali, cahaya Tuhan itu turun kapan saja dan dimana saja, bukankah Tuhan itu maha berkata kata? begitulah agama agama. Tuhan selalu berkata kata pada hambanya pada setiap masanya, dan agama dengan aturan aturannya adalah rule yang diberikan, yang segala sesuatunya diterjemahkan sesuai dengan konteks budaya dan daerahnya masing masing. Walupun terjadi beda penafsiran terhadap cahaya yang mewujud dalam aturan masing masing agama yang disebabkan karena beda jaman dan beda daerah geografisnya namun hal ini tidak menghilangkan esensi cahaya sebagai sumber penerang dalam hidup" Mustapha memberi penjelasan kepada Ali.
" Bagaimana dengan perang perang yang dilakukan nabi Muhammad Ayah?" Ali bertanya lagi.
Mustapha menarik nafas dalam dalam sambil berkata pada Ali " pertanyaan yang bagus Ali, perang perang yang dilakukan Rasulullah lah yang banyak melegitimasi para muslim sekarang untuk memerangi yang tidak seyakinan dengan dirinya. Tapi kita harus melihat Rasulullah tidak pernah memerangi orang karena keyahudiannya, Rasulullah tidak pernah memerangi seseorang karena kekristenannya. Bukankah ketika Rasulullah memulai kehidupan di Madinah dengan Piagam Madinahnya menjamin kehidupan antar umat beragama yang saling bertoleransi dan punya hak yang sama dalam hidup dan melindungi kota madinah, bukankah banyak kisah Rasulullah memberi makan Yahudi miskin di sudut sudut kota Madinah. Rasululullah juga pernah mengirim para sahabat untuk berlindung pada kerajaan Habasiyah yang pada saat itu rajanya adalah seorang yang non muslim (Kristen), Rasulullah bukanlah orang yang munafik, ketika terdesak minta bantu pada non muslim namun ketika diatas malah menginjak dan memeranginya. Bukankah Rasulullah senang mendengar kabar menangnya tentara kerajaan Kristen Romawi melawan kerajaan Persia. Rasulullah sangat menghargai keberagaman baragama, adapun perang perang yang dilakukan Rasulullah adalah perang melawan nilai nilai kemungkaran dan kemunafikan yang terjadi pada saat itu, seperti yang terjadi pada perang dengan kaum Yahudi di Medinah, bukan karena mereka beragama Yahudi tapi karena mereka telah mengingkari perjanjian perjanjian yang telah disepakati bersama. Begitu juga perang dengan musyrikin Mekkah, Rasulullah melakukan perang terhadap praktek prakter amoral dan asusila dari penduduk Mekkah yang mengakibatkan runtuhnya konstruksi sosial yang beradab dari masyarakat Mekkah. Begitu amoralnya mekkah pada saat itu sehingga Rasulullah perlu memeranginya dengan meletakkan pondasi tauhid dan tatanan sosial yang lebih bermatabat dalam bentuk bentuk hukum moral dalam agama. Fokus perjuangan Rasulullah tidak pernah bergeser dari membangun moral dan peradaban yang baik bukan memerangi agama orang lain".
Ali mengangguk anggukkan kepala mendengar paparan ayahnya, dengan mata yang menyempit dia berkata " Ok..jadi Rasulullah tidak pernah memerangi orang lain karena agamanya namum memerangi praktek praktek amoral dan asusila yang terjadi pada saat itu yang kebanyakan terjadi karena salahnya pondasi tauhid mereka (Musyrik), dan menurut ayah solusi untuk mengatasi permusuhan antar agama ini adalah menghilangkan ego diri dalam agama?"
" Iya, ketika ada orang yang mengatakan sinar matahari yang masuk kerumah kita ini tidak bagus apakah itu akan menguragi cahayanya? tidak kan? cahaya itu tidak bergantung pada penilaian orang lain dan dia akan tetap akan terang dengan sendirinya. kalaupun ada yang menghina agama kita, agama kita tidak akan hilang kesuciannya. Mungkin hati kita terasa sakit namun disitulah guna agama, kita gunakan agama untuk mengontrol hati kita agar terhindar dari hal hal buruk dari rasa sakit hati tadi. Lantas bagaimana dengan agama orang lain? dengan cahaya yang masuk rumah orang? bukan hak kita untuk menghakimi, itu urusan yang bersangkutan dengan pemilik cahaya, mereka mau menambahkan kaca warna warni dijendelanya agar cahaya yang masuk kerumahnya lebih bervariasi juga hak mereka. Kita tidak boleh menghakimi manusia lainnya karena kita tidak pernah tahu bagaimana hubungan masing masing hati manusia dengan Tuhan sebagai sumber cahaya, sumber agama" penjelasan Mustapha pada anaknya.
Hujan mulai berhenti dan matahari yang tadi bersembunyi di balik awanpun sudah keluar seperti juga cahaya yang baru masuk dalam pemikiran Ali tentang kepemilikan agama dengan segala perselisihan antar agama yang terjadi dari sudut pandang ayahnya, kawan diskusi dan sekaligus gurunya. Mereka harus melanjutkan lagi langkah mereka dengan tuntunan cahaya yang mereka miliki dan juga untuk membangun pagar pagar jarak keamanan sosial yang saling menjaga dan melindungi dari keberagaman etnis dan agama yang ada.
Ali bertanya lagi " kenapa bisa takut Yah? bukannya muslim disitu banyak dan kristennya sedikit, harusnya pendeta Markus yang takut penduduk muslim yang mayoritas mempengaruhi umat kristen yang minoritas dikampung itu". Pertanyaan yang lugu namun jujur terhadap kondisi ril tanpa harus diembeli pemikiran tentang apa keyakinannya dan kualitas benar salahnya.
" Iya, kamu benar Ali. Kalau kita melihat dari jumlah harusnya yang sedikit takut sama yang jumlahnya lebih banyak. Tapi itulah sikap mental, banyak jumlahnya belum tentu membuat kita yakin akan kekuatan kita, malah sebaliknya, merasa inferior dan terancam dengan kelompok yang lebih kecil".
" Atau jangan jangan mereka gak yakin sama keislaman mereka sendiri sehingga harus takut sama keyakinan orang lain" celoteh Ali.
Mustapha tersenyum mendengar kata kata Ali " harusnya begitu, kalau sudah yakin dengan keislamannya kita tidak perlu takut lagi dengan ajakan ataupun hasutan dari luar, lagian pak Markus juga tidak mengajak ataupun menghasut penduduk lainnya, dia cuma mengajak penduduk yang seiman dengannya untuk berdoa dirumahnya" kata Mustapha kepada anaknya.
Hujan belum juga menampakkan tanda tanda untuk berhenti, bagi Ali sendiri duduk dan diskusi dengan Ayahnya adalah salah satu hal yang disenanginya. Dari Ayahnya dia selalu mendapat sudut pandang yang berbeda dengan kebanyakan orang orang, sudut pandang yang menyeluruh, objektif dan bebas dari kotak kotak pemikiran. Seperti biasa, kali ini Ali juga merasa ada sesuatu hal yang ingin disampaikan Ayahnya. Sudah menjadi kebiasaan untuk berdiskusi, seperti setelah makan malam mereka sering menghabiskan waktu di balai balai mereka, membahas apa saja mulai dari keluarga, agama dan kehidupan sosial.
Dugaan Ali benar, tiba tiba Mustapha bertanya, "Ali, menurut kamu agama itu milik siapa'?
" Agama apa dulu Yah?" Ali balik bertanya. " Agama apapun" kata Mustapha.
Pertanyaan yang gampang sekali pikir Ali, anak kecil sekalipun bisa menjawabnya. " Agama milik masing masing penganutnya Yah, Islam ya milik muslim, Kristen milik mereka yang beragama Kristen dan Yahudi juga milik yang beragama Yahudi" jawab Ali.
" Bagus kalau mereka merasa memiliki agamanya, jadi mereka akan berusaha hidup sesuai dengan tuntunan agamanya" kata Mustapha.
" Maksud Ayah, ada pemilik lain dari agama?' Ali jadi bingung dan bertanya pada ayahnya.
" Agama itu bukan milik siapa siapa Ali, dia milik dirinya sendiri, milik Tuhan" terang Mustapha.
" Iya pasti lah Yah, kan agama diturunkan dari Tuhan seperti Islam, Kristen dan Yahudi".
Semua muslim meyakini bahwa agama seperti Yahudi, Kristen dan Islam diturunkan oleh Tuhan yang sama namun permasalahnnya tidak hanya cukup meyakini bahwa agama agama itu turun dari Tuhan karena pada kenyataannya banyak konflik beragama terjadi, khususnya bagi agama agama yang turun dari Tuhan, seperti perang Islam dengan Kristen, Islam dengan Yahudi maupun Kristen dengan Yahudi. Ketika meyakini semua agama turun dari Tuhan disaat yang sama pula banyak penganut agama mengklaim agama yang diyakininyalah yang paling benar dan agama lain salah/sesat ataupun kadaluarsa.
Bagi kebanyakan Muslim mengatakan bahwa Yahudi dan Kristen sudah kadaluarsa, tidak sesuai lagi karena sudah diperbaharui oleh Islam dan nilai nilai dalam Islam ini abadi sampai akhir jaman dan tidak boleh diganggu atau direvisi oleh siapapun.
Bagi pemeluk Kristen dan yahudi menganggap Muhammad adalah Nabi palsu dan ajarannya bukan dari Tuhan. Ekslusifisme inilah yang menjadi benih benih permusuhan antar umat beragama, merasa agamanya yang terbaik dan menyalahkan semua agama yang lain.
" Lantas kalau semua agama berasal dari Tuhan kenapa sesama mereka sering berperang?" tanya Mustapha lagi kepada anaknya.
" Karena masing masing mereka tidak menjalankan agamanya secara benar" jawab Ali
" Jadi semua agama adalah benar?' tanya Mustapha lagi kepada Ali.
Bagi Ali pertanyaan salah benar selalu menjadi pertanyaan yang sangat susah untuk dijawabnya, memang dia masih terlalu muda, masih remaja namun keluasan dan kedewasaan berpikir Mustapha telah banyak tertular dalam dirinya melalui diskusi diskusi kecil yang sering mereka lakukan. Dia selalu menghindar dari perkataan perkataan yang menghakimi yang tanpa sadar hal itu juga dia turunkan dari gaya berpikir ayahnya.
" Kalau kebenaran mungkin relatif Ayah, sesuatu yang benar ditempat kita belum tentu benar ditempat lain, namun Ali yakin semua agama mengajarkan kasih dan sayang, pembebasan dan mengangkat martabat manusia" jawaban yang sangat bijak dari seorang Ali yang masih remaja.
" Jadi kalau mereka benar banar menjalankan agamanya secara benar pastinya tidak akan perang Yah" tambah Ali.
Mustapha tidak sedang mengajari dan mendikte cara berpikir anaknya, baginya diskusi dengan Ali adalah cara dia membagi cerita, pengalaman dan ilmu, tentunya dia sangat sadar anaknya memiliki sudat pandang sendiri dan bisa mendapatkan referensi yang lebih banyak lagi diluar dengan kemudahan akses akses informasi di media.
" Iya, Ayah setuju, semua agama yang pernah diturunkan adalah untuk kebaikan kemanusiaan, menuntun manusia untuk selalu berada pada jalan fitrahnya sebagai mahluk yang senang pada keindahan,kedamaian dan kesucian. Agama itu seperti cahaya, dia datang untuk menerangi gelap jalan kita, kita tahu kemana harus melangkah dan tahu apa yang harus kita hindari untuk kebaikan kita pribadi dan kebaikan bersama, bagi kemanusiaan". kata Mustapha kepada Ali.
Seperti cahaya, agama bukan milik siapa siapa, dia milik dirinya sendiri, milik Tuhan. Seperti sinar matahari dipagi hari, cahaya selalu menerangi kegelapan dan selalu terang seperti apa ada dirinya dari sejak awal penciptaan hingga kiamat nanti.
Semua muslim meyakini bahwa semua nabi yang disebutkan dalam Quran adalah Islam (berserah diri). Mulai dari Adam hingga Muhammad adalah pembawa cahaya Tuhan, agama Tuhan.
Cahaya itu selalu sama dan tidak pernah berubah, yang berbeda hanya dalam terapan kehidupan mereka masing masing, yang disesuaikan dengan tuntutan keadaan dan budaya mereka. Intepretasi cahaya terhadap masing masing jaman dan peradaban lah yang membuat tampilan cahaya jadi berbeda, namun tetap untuk menciptakan kebaikan bagi kemanusiaan. Sementara benar dan salahnya sendiri tunduk terhadap standart kebaikan pada jamannya masing masing.
Mustapha menambahkan lagi " permusuhan itu terjadi ketika ada cahaya yang masuk rumah, maka kita klaim cahaya adalah milik kita. Kita lupa bahwa rumah rumah yang lain juga masuk cahaya. Ketika masing masing mengatakan bahwa cahaya adalah miliknya, dan yang benar adalah miliknya inilah awal perselisihan, masing masing kita suka menghakimi orang lain dalam kegelapan hanya karena kita cuma tahu rumah kita yang ada cahaya. Bahkan untuk peradaban primitif yang belum terjamah peradaban modern sekalipun ada cahaya Tuhan disana yang diterjemahkan oleh mereka sesuai dengan peradaban mereka sendiri".
Permusuhan dan peperangan antar agama terjadi ketika ego dilkekatkan pada agama, ini agamaku, apa agamamu? agama dia dan apa pula agama mereka?. Jangan pernah lekatkan ego pada agama, justru agama menginginkan kita meruntuhkan ego, selalu mengevaluasi dan menghakimi diri terlebih dahulu sebelum berkata dan bertindak, untuk membuat kita lebih mawas diri dan selalu mengawasi moral sendiri agar selalu dalam rule fitrah kemanusiaan kita yang hanief.
" Tapi bukankah masing masing agama seperti Islam, Kristen dan Yahudi itu eksis dan berdiri sendiri Ayah?" Ali bertanya.
" Iya, betul Ali, cahaya Tuhan itu turun kapan saja dan dimana saja, bukankah Tuhan itu maha berkata kata? begitulah agama agama. Tuhan selalu berkata kata pada hambanya pada setiap masanya, dan agama dengan aturan aturannya adalah rule yang diberikan, yang segala sesuatunya diterjemahkan sesuai dengan konteks budaya dan daerahnya masing masing. Walupun terjadi beda penafsiran terhadap cahaya yang mewujud dalam aturan masing masing agama yang disebabkan karena beda jaman dan beda daerah geografisnya namun hal ini tidak menghilangkan esensi cahaya sebagai sumber penerang dalam hidup" Mustapha memberi penjelasan kepada Ali.
" Bagaimana dengan perang perang yang dilakukan nabi Muhammad Ayah?" Ali bertanya lagi.
Mustapha menarik nafas dalam dalam sambil berkata pada Ali " pertanyaan yang bagus Ali, perang perang yang dilakukan Rasulullah lah yang banyak melegitimasi para muslim sekarang untuk memerangi yang tidak seyakinan dengan dirinya. Tapi kita harus melihat Rasulullah tidak pernah memerangi orang karena keyahudiannya, Rasulullah tidak pernah memerangi seseorang karena kekristenannya. Bukankah ketika Rasulullah memulai kehidupan di Madinah dengan Piagam Madinahnya menjamin kehidupan antar umat beragama yang saling bertoleransi dan punya hak yang sama dalam hidup dan melindungi kota madinah, bukankah banyak kisah Rasulullah memberi makan Yahudi miskin di sudut sudut kota Madinah. Rasululullah juga pernah mengirim para sahabat untuk berlindung pada kerajaan Habasiyah yang pada saat itu rajanya adalah seorang yang non muslim (Kristen), Rasulullah bukanlah orang yang munafik, ketika terdesak minta bantu pada non muslim namun ketika diatas malah menginjak dan memeranginya. Bukankah Rasulullah senang mendengar kabar menangnya tentara kerajaan Kristen Romawi melawan kerajaan Persia. Rasulullah sangat menghargai keberagaman baragama, adapun perang perang yang dilakukan Rasulullah adalah perang melawan nilai nilai kemungkaran dan kemunafikan yang terjadi pada saat itu, seperti yang terjadi pada perang dengan kaum Yahudi di Medinah, bukan karena mereka beragama Yahudi tapi karena mereka telah mengingkari perjanjian perjanjian yang telah disepakati bersama. Begitu juga perang dengan musyrikin Mekkah, Rasulullah melakukan perang terhadap praktek prakter amoral dan asusila dari penduduk Mekkah yang mengakibatkan runtuhnya konstruksi sosial yang beradab dari masyarakat Mekkah. Begitu amoralnya mekkah pada saat itu sehingga Rasulullah perlu memeranginya dengan meletakkan pondasi tauhid dan tatanan sosial yang lebih bermatabat dalam bentuk bentuk hukum moral dalam agama. Fokus perjuangan Rasulullah tidak pernah bergeser dari membangun moral dan peradaban yang baik bukan memerangi agama orang lain".
Ali mengangguk anggukkan kepala mendengar paparan ayahnya, dengan mata yang menyempit dia berkata " Ok..jadi Rasulullah tidak pernah memerangi orang lain karena agamanya namum memerangi praktek praktek amoral dan asusila yang terjadi pada saat itu yang kebanyakan terjadi karena salahnya pondasi tauhid mereka (Musyrik), dan menurut ayah solusi untuk mengatasi permusuhan antar agama ini adalah menghilangkan ego diri dalam agama?"
" Iya, ketika ada orang yang mengatakan sinar matahari yang masuk kerumah kita ini tidak bagus apakah itu akan menguragi cahayanya? tidak kan? cahaya itu tidak bergantung pada penilaian orang lain dan dia akan tetap akan terang dengan sendirinya. kalaupun ada yang menghina agama kita, agama kita tidak akan hilang kesuciannya. Mungkin hati kita terasa sakit namun disitulah guna agama, kita gunakan agama untuk mengontrol hati kita agar terhindar dari hal hal buruk dari rasa sakit hati tadi. Lantas bagaimana dengan agama orang lain? dengan cahaya yang masuk rumah orang? bukan hak kita untuk menghakimi, itu urusan yang bersangkutan dengan pemilik cahaya, mereka mau menambahkan kaca warna warni dijendelanya agar cahaya yang masuk kerumahnya lebih bervariasi juga hak mereka. Kita tidak boleh menghakimi manusia lainnya karena kita tidak pernah tahu bagaimana hubungan masing masing hati manusia dengan Tuhan sebagai sumber cahaya, sumber agama" penjelasan Mustapha pada anaknya.
Hujan mulai berhenti dan matahari yang tadi bersembunyi di balik awanpun sudah keluar seperti juga cahaya yang baru masuk dalam pemikiran Ali tentang kepemilikan agama dengan segala perselisihan antar agama yang terjadi dari sudut pandang ayahnya, kawan diskusi dan sekaligus gurunya. Mereka harus melanjutkan lagi langkah mereka dengan tuntunan cahaya yang mereka miliki dan juga untuk membangun pagar pagar jarak keamanan sosial yang saling menjaga dan melindungi dari keberagaman etnis dan agama yang ada.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Surga, Sistem atau Tujuan Kehidupan?
Masjid Nabawi Madinah 2012 Terlalu sering kita mendengar ajakan melakukan amalan amalan menuju surga ataupun meninggalkan perbuatan ...
-
" Berbakti dan bahagiakanlah kedua orang tuamu karena bahagia yang kau toreh dihatinya kelak akan menjadi tangan tangan malaikat pemba...
-
Masjid Nabawi Madinah 2012 Terlalu sering kita mendengar ajakan melakukan amalan amalan menuju surga ataupun meninggalkan perbuatan ...
-
Durdle Door Beach, England 2017 Dalam fitrahnya semesta ini adalah dinamis, selalu bergerak dan berubah mulai dari partike...

