Sunday, July 26, 2015

Inklusifisme Beragama


Sangat menyedihkan melihat perkembangan kehidupan beragama akhir akhir ini baik yang terjadi di nusantara maupun dibelahan bumi lainnya. Mulai dari perseteruan klasik Sunni-Syiah, ISIS, Wahabi-Islam tradisional, Ahmadiyah hingga kasus kasus anti toleransi dengan gerakan gerakan terorisme dan pembakaran tempat tempat ibadah. Beriring waktu, konflik atas nama agamapun semakin sering terjadi, agama  sudah menjadi alat pembenaran bagi tindakan tindakan kekerasan yang dilakukian terhadap paham paham yang berseberangan dengan pemikiran dan keyakinan masing masing golongan. Parahnya kebanyakan dari konflik atas nama agama ini berakhir  pada tindakan tindakan anarkhis seperti pembakaran tempat ibadah dan pertumpahan darah. Hal ini  sangat disayangkan karena para pelakunya mencitrakan tindakan kekerasan yang dilakukannya adalah representasi dari keyakinannya yang tentu saja hal ini sangat bertentangan dengan nilai nilai luhur yang ada pada agama yang dianutnya. Setiap pemeluk agama akan mencitrakan hal yang positif tentang agamanya secara verbal,ketika ditanya tentang agamanya pasti akan menjawab bahwa agama mereka adalah pembawa kebaikan bagi manusia, agama adalah rahmat dan pembawa damai, agama adalah cinta terhadap sesama namun hal ini akan serta merta berubah menjadi monster meyeramkam yang siap memangsa siapa saja ketika dikonfrontasi dengan ajaran yang berbeda dengan keyakinannya.

Sejak sejarah kenabian dikenal dari Adam As hingga Muhammad SAW mereka selalu membawa pesan yang sama, menyampaikan nilai nilai universal bagi kebaikan manusia baik sebagai pribadi maupun manusia sebagai bagian dari mahluk sosial. Mereka adalah agen agen pengubah sosial unggulan yang diutus Tuhan untuk memperbaiki akhlak dan membangun kehidupan manusia yang lebih beradab dan bermartabat.
Pada dimensi  perbaikan diri agama adalah sarana pembebas, agama mengajarkan manusia untuk keluar dari kebodohan dan ketundukannya kepada mahluk lain ataupun kepada sesuatu yang lemah dari dirinya sendiri, Agama mengajarkan kita untuk berdiri diatas kekuatan pribadi manusia yang unggul, memiliki kepercayaan diri yang kuat dengan selalu bersandar pada sumber kehidupan itu sendiri yang tentunya setiap manusia apapun agama, ras dan suku bangsanya mempunyai jalur akses yang sama yaitu hati nurani mereka sendiri.

Pada tataran yang lebih tinggi dan luas lagi dalam kehidupan sosialnya agama telah menuntun manusia  mendahulukan akhlak/moral yang mulia.
Hal ini menunjukkan perbaikan kualitas pribadi manusia adalah titik sentral dari beragama, yang menjadikan hal ini  modal utama manusia dalam menjalankan peran dan fungsinya dalam kehidupan sosial. Dalam ajaran Islam ini bisa didapat dari sabda Rasulullah pada salah satu Hadist shahih "Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia".

Adalah lebih utama agama dijadikan sebagai sarana perbaikan diri secara mental, sikap dan perilaku dalam berkehidupan dan tidak menjadikannya sebagai alat dagangan, alat politik dan alat pemebenaran terhadap nafsu nafu kehewanan. Pemahaman yang sempit dalam beragama akan melahirkan penganut penganut yang sempit, picik, ekslusif, mengklaim kebenaran cuma miliknya  dan tidak jarang sering melangkahi Tuhan dengan melakukan penghakiman terhadap ssesuatu golongan ataupun penganut yang berbeda dengan keyakinannya. Sebaliknya, pemahaman yang mendalam dan holistik terhadap  agama akan menjadikan penganutnya menjadi lebih humanis, inklusif dan toleransi serta menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari keberagaman yang ada dan bersama sama membangun peradaban yang baik bagi kemanusiaan.

Keberagaman sendiri adalah keniscayaan yang tidak bisa ditolak, dunia tidak akan mungkin dipenuhi oleh agama, suku bangsa, ras dan budaya yang homogen. Heterogenitas yang terbentuk mulai dari perbedaan letak geografis, musim, warna kulit, bentuk tubuh, pola pikir, sikap, perilaku dan kebudayaan adalah hal yang sangat alamiah terjadi dalam kehidupan. Runutan perbedaan proses yang terjadi tadi sangat besar berpengaruh terhadap pandangan hidup dan ideologi yang dianut oleh suatu kaum. Tidak usah jauh, perbedaan ini sendiri terjadi di dalam Islam yang awalnya pada Masa Muhammad SAW tidak dikenal satu mahzab pun namun sepeninggal beliau langsung terpecah menjadi beberapa golongan dan mahzab. Adalah faktor latar belakang yang berbeda tadi yang menjadikan terjadinya perbedaan perbedaan dalam penafsiran ajaran walaupun berasal dari sumber yang sama. Dalam contoh kasus yang lebih luas lagi, penganut Islam juga tidak bisa memaksakan penganut agama lainnya untuk menerima kebenaran Islam walupun para Nabi seperti Musa As, Isa As dan Muhammad SAW membawa pesan yang sama.  Perbedaan sangat lumrah dan pasti terjadi dalam kehidupan yang serba relatif, tidak ada kebenaran yang mutlak dalam kehidupan manusia. Sebagai manusia kita hanya bisa selalu dan terus  berusaha menjadi manusia yang terbaik sesuai tuntunan yang kita yakini dan perbedaan yang ada harusnya menjadi sumber potensial bagi para penganut beragama untuk saling belajar, melengkapi dan membangun kehidupan karena tujuan dari agama sendiri adalah pengakuan terhadap nilai nilai luhur kemanusiaan dan membangun peradaban yang bermartabat,damai dan sejahtera.

Islam punya pandangan yang menarik tentang berbuat baik terhadap sesama ini seperti yang terdapat pada hadist berikut, " Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik baik manusia  adalah manusia yang paling bermamfaat bagi manusia" (HR Thabrani dan Daruquthni).
Dalam Hadist ini Nabi Muhammad mengatakan bahwa kebaikan manusia tidak didasarkan atas ras, bangsa dan mahzab yang diyakini namun lebih kepada kebaikan yang diberikan bagi kemanusiaan. Tidak ada pengkhususan dalam hadist ini sehingga tidak ada yang harus merasa lebih baik dari yang lainnya. Dan satu pesan lagi adalah tidak ada kebaikan bagi yang tidak bersikap ramah. Ramah adalah elemen yang sangat penting  untuk membina komunikasi dan relasi yang baik antar sesama manusia sehingga nabi Muhammad SAW sendiri mengatakan tidak ada ada kebaikan bagi yang tidak berlaku ramah.

Seperti halnya dalam ajaran Islam, saya juga meyakini agama agama lainnya juga mengajarkan nilai nilai yang baik pula. Pengakuan terhadap nilai nilai luhur manusia, cinta kasih dan menciptakan kehidupan yang damai dan sejahtera dalam kehidupan. Tidak ada satupun dari agama yang lahir atas dasar kebencian terhadapa golongan yang lainnya. Kebencian hanya akan lahir dari orang orang yang gagal dalam menafsirkan pesan pesan luhur dari agama. Untuk membangun kehidupan yang damai dalam keberagaman ini perlu adanya kesadaran yang mendalam dalam beragama dengan melakukan proses internalisasi nilai nilai luhur agama kedalam diri bagi setiap pemeluk agama untuk menciptakan kesalehan dan keluhuran pribadi. Setiap agama pastinya memiliki cara tersendiri dalam pembentukan karakter/akhlak, seperti yang dikenal dalam Islam yaitu shalat dan puasa.

Apapun bangsa, ras,Agama, mahzab yang kita yakini tidak bisa menjadi alasan bagi kita untuk saling memusuhi dan berperang, justru dengan keyakinan yang ada pada diri kita megajarkan kita untuk lebih respek terhadap perbedaan dan bisa hidup saling berdampingan menbangun dunia yang penuh damai dan sejahtera. Kita semua manusia berasal dari sumber yang satu, secara fitrahnya juga memiliki visi yang satu dan kembali juga pada yang satu.

By assatar







Surga, Sistem atau Tujuan Kehidupan?

Masjid Nabawi Madinah 2012 Terlalu sering kita mendengar ajakan melakukan amalan amalan menuju surga ataupun meninggalkan perbuatan ...